Si Burung Besi Timur

Pesawat sederhana adalah alat-alat yang dipergunakan untuk membantu kerja manusia, tetapi tulisan ini bukan bermuatan fisika kok. Hehe…Nah ketika aku bertugas di Kobakma ada pengalaman tentang kendaraan yang ingin kuceritakan. Teringat saat ingin pergi ke suatu tempat apabila di kampung halaman dapat mempergunakan kendaraan darat seperti sepeda motor, mobil dan kereta, terlebih ketika kita misalnya bepergian jauh antar kabupaten. Cerita ini pun hampir sama ketika aku sempat tinggal di Kalimantan Tengah dimana sudah terbentang jalan raya yang beraspal. Kalau kita tinggal di sebelah barat Indonesia terlebih perkotaan, kita sama-sama sudah tahu harga ongkos bus atau kereta masih dapat dijangkau. Dan harga bahan bakar untuk kendaraan tersebut adalah harga yang standar nasional.

Pesawat terbang mengantarkan aku dan teman-teman dari kota Jayapura – distrik Wamena
Pesawat terbang ini bermuatan 18orang sudah dual twin, mengantarkan aku dan teman-teman dari Wamena-Kobakma

Tidak pernah terbayangan memang ketika aku memasuki daerah tugas kemarin, semua perjalanan ditempuh dengan menaiki pesawat terbang, mulai pesawat terbang jenis boeing sampai pesawat pesawat terbang Cesna (perintis) berpenumpang 18 orang. Perjalanan udara dengan pesawat terbang dari bandara Juanda Surabaya sampai ke Jayapura naik pesawat terbang, lalu disambung pesawat terbang lagi dari Jayapura ke Wamena, ke Kobakma sekali lagi naik pesawat terbang dari Wamena. Distrik Kobakma adalah ibukota kabupaten Mamberamo Tengah berada di pegunungan tengah Papua sehingga keadaannya seperti itu bahkan untuk menempuh antar kabupaten harus mempergunakan pesawat terbang dengan biaya yang sangat mahal. Sampai saat ini pembangunan jalan darat yang menghubungkan distrik Kobakma ke distrik-distrik lainnya meskipun masih dalam satu daerah kabupaten, jika masyarakat lokal dapat berjalan kaki beratus-ratus kilometer.

Jika naik pesawat perintis dari Kobakma tidak perlu beli tiket, cukup datang ke bandara masuk ke kantor salah satu maskapai untuk menanyakan ada flight ke Jayapura atau Wamena misalnya. Ketika petugas bilang ada, bisa langsung bayar ditempat dengan biaya ya sangat mahal kalau pandangan orang perkotaan. Kobakma-Wamena ongkosnya 500-700rb dengan terbang sekitar 15-20 menit dan untuk Kobakma-Jayapura ongkosnya 1 juta dengan waktu terbang kurang lebih 45 menit. Pernah pengalaman sewaktu menjelang natal aku dan teman-teman ingin berlibur ke Jayapura. Penumpang saat itu padat, kami tidak bisa satu pesawat naik tujuh orang akhirnya naik secara terpisah. Nah disini pengalamanku naik pesawat perintis paling kecil berpenumpang 8 orang. Sistem kerja pesawat ini masih manual termasuk saat menggulung sayap. Naik pesawat perintis kecil seperti ini memang memompa adrenalin seperti olahraga eksrim itu. Di atas kita akan melihat pegunungan yang indah, sungai-sungai, pohon-pohon yang masih alami. Keadaan akan berbalik ketika langit sudah gelap alias mendung maka tidak kelihatan apapun di depan, ditambah ada hujan dan angin. Makin cepatlah detak jantungku waktu itu. Pernah ada kejadian  pesawat terbang yang tidak dapat mendarat karena waktu itu awan tebal pilot hanya membawa pesawat berputar-putar daerah bandara, sampai akhirnya pesawat terbang tersebut kembali ke bandara semula berangkat. Aku sempat berpikir setiap manusia pasti punya titik balik kehidupannya  terlebih ketika dalam keadaan tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain berserah. (bermakna).  Pilot-pilot pesawat inipun ada yang orang asal Indonesia sampai luar negeri dan beberapa pilot asli anak Papua. Dari beberapa informan aku dapatkan bahwa dahulu pertama sekali yang masuk ke daerah pedalaman Papua adalah para misionaris agama Kristen, tidak salah hampir semua bandara dibuat oleh mereka yan pertama sekali datang ke daerah tersebut. Bahkan bandara distrik Kobakma bukan milik pemerintah tetapi dibangun karena misi penginjilan.

Pesawat terbang ini bermuatan 8-9 orang. Pesawat perintis ini sebagian kinerjanya masih manual. Mengantarkanku dari Kobakma-Jayapura. Pesawat paling goyang waktu di udara terlebih waktu itu cuaca hujan dan berangin

Mengenai penggunaan mobil dan sepeda motor sewaktu di Kobakma aku dan teman-teman meminjam punya bapak/ibu guru atau warga maupun siswa/i biasanya untuk pergi berbelanja bahan kebutuhan pokok seperti beras, sayur dan lauk . Harga bahan bakar (bensin) di Kobakma normalnya 50rb/liter sedangkan apabila terjadi kelangkaan bisa mencapai 80rb/liter. Jika tidak mendapat pinjaman biasanya menumpang mobil truk para tukang yang lalu lalang mengambil batu atau pasir. Kalau mau gratis salah satu caranya adalah berjalan kaki. Hehe… 

Bangunan-bangunan dan fasilitas umum yang ada di Kobakma semua dibangun dengan biaya menghabiskan beratus-ratus juta rupiah. Sebab bahan-bahan bangunannya didatangkan dari luar daerah bahkan dari Jawa dengan biaya distribusinya melebihi harga beli barang bangunan tersebut dikarenakan hanya dapat menggunakan pesawat terbang.

Di akhir masa tugas mengajar di distrik Kobakma aku dan teman-teman pun kembali menaiki pesawat terbang perintis. Dengan diantar oleh siswa dan siswi sampai bandara, tempat yang menjadi saksi perpisahan kami. Terima kasih Tuhan telah memberikan kesempatan dan keselamatan, dan manusia kepunyaanMu yang telah menciptakan burung besi ciptaan pun telah mengantarkan aku sampai ke tanah Papua. Tanah yang indah.

Pemandangan indah dari pesawat terbang perintis

Maskapai Susi AirAir
Maskapai Dimonim Air
Maskapai Trigana Air

Photo history of Taman Baca Bintang Timur

Awalnya buat kegiatan belajar sore hari untuk anak-anak
Berlanjut ada juga kegiatan membaca buku, ketika itu bukunya kebanyakan buku bacaan cerita rakyat dan dongeng kami pinjam dari SMA Negeri Kobakma
Ternyata kegiatan belajar sore menarik perhatian para orang tua juga
Dengan dana pribadi saya ingin menambah koleksi buku belajar dan bacaan(seperti bobo, kuark, bacaan dongeng, komik) dibantu mitra Monika Lingga di Medan, sebagian buku juga berasal dari donasi keluarga dekat
Di awal bulan Desember 2015 dicoba menggalang donasi dengan dibantu pihak Bukuntukpapua, setelah semua ketentuan dan syarat terpenuhi maka nama Lapak Baca Bintang Timur dibagikan ke media sosial selama satu bulan masa kampanye

Terima kasih kakak Jes

Perhatian yang sangat menggembirakan para donatur yang baik hati dan pihak Bukuntukpapua telah banyak membantu
Setelah sebulan masa kampanye dengan segala upaya akhirnya buku-buku hasil penggalangan mendarat di Kobakma. Syukurlah semua buku dalam keadaan baik, ada sekitar 200an judul buku
Buka lapak baca di kantor desa

Pada akhirnya bekerja sama dengan dokter Dedy Simanjuntak mendapatkan ruang untuk membaca dan menyimpan buku-buku

Sekarang sudah bisa membaca di ruang baca

Anak-anak sudah datang dan membaca bersama-sama

Terima kasih Tuhan buat semua berkat dan kesempatan yang Engkau berikan. Terima kasih juga buat semua pihak yang banyak membantu lapak baca Bintang Timur, Tuhan memberkati. 

Inisiatif Pendirian Lapak Baca (Distrik Kobakma Mamberamo Tengah, Papua) Oleh: Daniel Leonard Sinaga

 

Cerita Tentang Inisiatif

  1. Apa yang ingin anda lakukan dan dimana?

Yang ingin saya lakukan adalah memfasilitasi warga mulai dari anak-anak, remaja, dewasa dan orangtua dengan buku bacaan yang berkualitas melalui pendirian Lapak Baca di Distrik Kobakma, Kab.Mamberamo Tengah, Papua.

 

  1. Ceritakan tentang diri dan latar belakang.

Saya Daniel Leonard Sinaga, asal dari Sumatera Utara berusiaa 25 Tahun. Semasa kuliah saya telah aktif mengikuti kegiatan social secara khusus bidang pendidikan baik melalui organisasi maupun komunitas social di lingkungan luar kampus. Ada ketertarikan yang besar dalam diri saya terhadap bidang pendidikan, itulah sebabnya dimanapun saya berada, saya selalu menyempatkan diri mengambil bagian di bidang sosial secara khusus bidang pendidikan. Sebelumnya, saya sempat bekerja sebagai Guru di Palangkaraya selama setahun dan selama disana saya menjadi Koordinator komunitas 1000Guru regional Kalimantan Tengah. Sekarang, bersama dengan tujuh rekan lainnya, saya ditugaskan menjadi Tenaga Pengajar di Mamberamo Tengah melalui gerakan SM-3T dari Kemendikbud.

 

  1. Mengapa melakukan hal tersebut? Kapan ingin direalisasikan?

Bagi saya, mengeluh saja dan mengkritik pemerintah atas masalah yang ada tidaklah cukup. Setiap orang memiliki tanggung jawab yang sama terhadap masalah yang terjadi di negeri ini, termasuk saya. Oleh karena  itu, saya benar-benar harus turun tangan melihat kondisi pendidikan yang belum layak di Distrik Kobakma ini. Selain itu, saya percaya setiap anak di Indonesia berhak mendapat pendidikan yang layak, setiap anak berpotensi jadi pemimpin termasuk anak-anak di ujung Republik seperti di Papua ini. Oleh karena itu, kita bertanggungjawab menghantarkan mereka ke masa depan mereka, termasuk dengan pendidikan dan seluruh fasilitas pendidikan seperti buku. Secara teknis, pendirian Lapak baca sudah mulai dilaksanakan secara personal oleh saya dan teman-teman melalui permohonan donasi dana dan buku kepada teman-teman secara pribadi dan rencananya ketika belum ada gedung Lapak baca sekalipun, kami sudah mulai melaksanakan kegiatan belajar tambahan seadanya, bias di Lapak kami, di teras sekolah atau dibawah pohon sekalipun. Namun, secara keseluruhan, Lapak baca ditargetkan berdiri dan beroperasi pada Desember 2015.

 

  1. Apa saja yang dibutuhkan?
  • Buku pelajaran SD-SMP dan SMA
  • Buku pengetahuan (RPAL/RPUL, NatGeo, Ensiklopedi atau Buku Penemuan)
  • Buku keagamaan untuk SD-SMP-SMA
  • Majalah baik untuk anak maupun orangtua
  • Buku cerita/dongeng
  • Komik anak
  • Buku keterampilan bagi Remaja dan Orang Tua
  • Buku panduan budidaya (Tanaman maupun Hewan)
  • Alat Peraga Pendidikan
  • Alat tulis dll

 

  1. Jika membuat Lapak Baca, target pembaca Lapak baca siapa?

Siswa/I SD, SMP, SMA dan orang tua.

 

  1. Jumlah buku yang diperlukan untuk menjalankan Lapak Baca?

500 buah buku terdiri dari buku untuk siswa SD, SMP, SMA dan umum/orang tua.

 

  1. Lokasi Lapak Baca dimana?

Lapak baca dibuka di halaman Gereja Bhetel jemaat Kobakma

 

  1. Siapa yang bertanggungjawab terhadap Lapak Baca ini?

Saya dan Rekan pengajar lainnya, dan tentunya akan dijalin kerjasama dengan Tokoh Masyarakat dan Adat setempat seperti Kepala desa. (dengan pertimbangan masa tugas kami yang hanya setahun ditempat ini)

 

  1. Apa dukungan yang diharapkan dari pemerintah daerah cc Dinas Pendidikan?

Pemerintah Daerah mendukung dengan membantu penyediaan fasilitas seperti buku, bantuan alat belajar dll.

 

  1. Apa dukungan yang diharapkan dari Masyarakat?

Masyarakat boleh menerima hadirnya Lapak Baca ini dengan baik, secara khusus kepada orangtua agar memberikan waktu luang bagi anak-anak agar dapat mengikuti program yang dilaksanakan di Lapak baca nantinya.

 

  1. Jika Project penggalangan ini telah selesai da nada yang ingin mendukung Lapak baca, akan menghubungi siapa, alamat atau no HP?

Daniel Leonard Sinaga.

HP/WA: 082255149677

Distrik Kobakma, Mamberamo Tengah, Papua.

 

Deskripsi Proyek

  1. Nama Lapak Baca

Lapak Baca ini diberi nama Lapak Baca “Bintang Timur”. Bintang berarti harapan dari terbentuknya Lapak Baca ini yaitu semua anak-anak yang belajar di lapak baca mampu bermimpi setinggi bintang serta mampu berprestasi dan bersinar dan menjadi bintang bagi Keluarga, lingkungan maupun Indonesia. Timur menunjukkan posisi mereka yang jauh di “Timur Indonesia”. Kedepannya, tidak menutup kemungkinan lapak baca ini akan berganti menjadi Rumah Baca apabila ada ruangan atau gedung yang bisa dijadikan tempat menyimpan buku serta tempat belajar.

  1. Lokasi/Jam Operasional: Lapak baca dibuka di halaman Gereja Bhetel jemaat Kobakma. Lokasi ini dipilih karena halamannya yang luas, dekat dengan rumah-rumah penduduk serta ruangan gereja bisa digunakan untuk tempat menyimpan buku-buku. (Rumah kami (Guru SM3T) cukup jauh dengan rumah-rumah warga, jadi jika buku disimpan di rumah kami akan kesulitan untuk membawa buku turun setiap kali menggelar lapak baca). Lapak baca dibuka setiap har Senin, Rabu dan Minggu mulai pukul 15.30 – 18.00 WIT.

 

  1. Layanan Lapak Baca:
  • Kelas “calistung” : kelas ini fokus pada siswa/i SD-SMP yang masih mengalami kesulitan dalam membaca, menulis dan berhitung. Metode yang digunakan adalah pengenalan huruf, angka serta belajar membaca, menulis dan berhitung dasar.
  • Kelas lanjutan (bisa direvisi): kelas ini fokus pada siswa SMA untuk mengejar ketertinggalan pelajaran di sekolah yang sering kali disebabkan karena kekurangan buku pelajaran dan kemampuan belajar siswa yang masih lambat. Materi yang diajarkan bisa beragam mulai dari matematika, IPA, IPS maupun bahasa inggris. Selain itu, kelas ini juga diharapkan menjadi kelas tambahan sebagai persiapan menuju Ujian Nasional.
  • Selama lapak baca dibuka (2,5 jam) akan ada 3 sesi setiap pertemuannya, yaitu sesi pertama (30 menit) untuk pembukaan, gmaes maupun Ice Breaking, sesi kedua (1 jam) kelas dibagi dua yaitu kelas “calistung” dan kelas “lanjutan) serta diakhiri dengan sesi ketiga (1 jam) yaitu sesi membaca dimana semua siswa boleh membaca buku secara bebas sesuai minat mereka.
  • Setiap enam kali pertemuan (2 minggu) akan diadakan perlombaan baik di bidang membaca, menulis, berhitung serta kelas tambahan bagi seluruh siswa. Bagi siswa yang menjuarai lomba akan ada reward, hal ini diharapkan mampu menjadi motivasi dan semangat bagi seluruh siswa untuk hadir dan belajar di Lapak baca.

 

  1. Informasi dan Publikasi Lapak baca.

Seluruh informasi dan kegiatan Lapak Baca akan didokumentasikan dan dipublikasikan melalui akun media sosial FB dan Instagram Lapak Baca yang akan dibuat dan dikelola. Melalui akun ini juga akan dipublikasikan tentang donasi dan ucapan terimakasih/testimoni siswa bagi donatur yang telah mendukung pendirian dan kegiatan Lapak Baca nantinya.

01 Desember 2015

 

Tas Sekolah Calon Pastor

Pada suatu hari aku mengajar di kelas VIIA SMP Negeri Kobakma, seperti biasa anak-anak sudah menunggu kedatanganku di kelas untuk belajar. Pelajaran pun aku mulai, melihat mereka yang antusias dalam belajar akupun menjadi semangat menjelaskan materi pelajaran, memberikan contoh sampai aku mengecek setiap tulisan mereka satu-persatu. Sampailah aku di meja seseorang siswa bernama Gitar Aud. Kuperhatikan catatannya. Sembari juga aku aku melihat tas sekolah yang dibawanya. Aku terkejut loh….itu kan tas raket badminton, apa dapat memuat buku-buku di dalam tas itu? Gitar adalah seorang pendatang di Kobakma, orang tuanya berada di distrik Ilugwa distrik yang berada 145 km dari Kobakma, salah satu distrik Kabupaten Mamberamo Tengah. Di kobakma dia tinggal bersama bapak kepala SMP Negeri Kobakma, mereka masih ada hubungan kekeluargaan dan tentunya masih satu rumpun marga. Kegiatan setiap hari dari Gitar adalah ikut membantu keluarga bapak kepala sekolah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga berkebun, mencari kayu bakar sudah menjadi rutinitasnya sepulang sekolah dan ada satu lagi pekerjaan yang selalu aku lihat dia kerjakan yaitu menjaga anak bapak kepala sekolah yang masih berumur dua tahun. Dalam hati aku bertanya kapan waktu dia belajar jika kerjaannya di rumah begitu banyak? Cita-citanya adalah menjadi seorang pastor kebetulan dia hanya satu-satunya di kelas yang beragama kristen katolik. Kemampuan belajarnya memang tidak istimewa sampai seperti anak yang lainnya, namun jika melihat kegigihannya yang sudah mau datang jauh ke distrik lain, meninggalkan orang tua di kampung jauh hanya untuk bersekolah. Aku menjadi terinspirasi padanya. Dalam hatiku pun tumbuh niat untuk memberikan tas milikku, ini adalah tas yang selalu kupakai yang merupakan hasil kerjaku di perantauan. Esoknya niat itu langsung aku jalankan, kupanggil gitar ke perpustakaan pada waktu istirahat. 

Gitar….!

Iya pak guru, ada apa ya? Dia masih membawa tas raket badminton di punggungnya.

Pak guru mau tanya-tanya bisa?

Bisa pak guru!

Duduk dulu sini. Disitulah kami berbicara tentang keluarganya sampai kegiatan rutinitas dan cita-citanya.

Lalu aku pun bertanya kenapa pakai tas itu? Jawabnya tas sa sudah rusak pak guru. 

Tidak ada tas lagikah saya balas tanya kembali? 

Ini saja yang ada pak guru. Hehe…

Yasudah… Ini pak guru punya tas, cuma udah bekas. Karena pak guru tahu kamu ingin sekolah. Jadi ini tas buatmu, tetap rajinlah belajar ya, baca buku dan ke sekolah untuk menggapai cita-citamu.

Iya pak guru jawabnya, sa pasti rajin belajar dan datang ke sekolah!!!

Dengan semangat sambil mengucapkan terima kasih dan langsung mengeluarkan buku-buku dari tas raket tersebut dimasukkan ke dalam tas yang baru aku berikan. Cocok toh pak guru!? ujarnya sambil memakai tas tersebut dipunggungnya. Keesokan harinya aku melihat dia datang ke sekolah sudah menggunakan tas dari pemberianku tersebut sembari tersenyum padaku dia menyapa, selamat pagi pak guru! Selamat pagi juga jawabku. Niat memberikan tas itu tiba-tiba ada dan tumbuh karena aku melihat energi, energi yang besar kemauan untuk belajar dan datang bersekolah dari Gitar. Semoga cita-citanya dapat digapainya menjadi seorang pastor.​

Adalah dia mama…sosok yang Tuhan sudah berikan untuk kucontoh kasihnya. Sampai sekarang dia masih menaruh kasihnya itu untukku padahal aku terkadang tidak mendengar nasehatnya.

Kupandangi wajahnya yang layu, kulitnya keriput, tangan dan kakinya mulai melemah namun tidak mudan menyerah.

Aku suka diperhatikan olehnya.

Tuhan sangat baik masih memberikan mama, temanku banyak mamanya sudah meninggal dunia. Apa rasanya mereka tanpa mama?

Dalam waktu sekejap aku telah tumbuh remaja.

Seingatku dulu mamalah yang menggendongku kemana-mana. Gendongnya pakai noken, kadang juga dipundaknya waktu nokennya berisi sayuran dan bahan makanan.

Di dalam noken itu hangat, aman dan nyaman. Padahal aku tidak tahu mama sudah letih, berapa jauh perjalanan kami lalui turun naik gunung aku tetap digendongnya. Apakah dikala itu hujan atau cuaca sedang terlampau panas. Mama berkeringat atau kedinginan. Begitupun dia kuat sampai sekarang.

Kampung kami yang jauh dari kota,biasanya kami berjalan kaki puluhan sampai ratusan kilo untuk menuju kesana, tempat kami membawa hasil kebun untuk dijual.

Proses menyambung kehidupan telah mama ajarkan. Kini saatnya aku memberikan yang terbaik untuk mama.

Aku harus bersekolah, berani bermimpi.

Mengalahkan ajakan rasa malas, hingga dapat kupersembahkan sesuatu yang manis untukmu mama.

________________

Kobakma, 15 Juni 2016​